Ada keindahan di sana. Tak dimungkiri, citarasa tergelitik saat mengikuti pentas teater bertajuk “Musyawarah Burung”, yang dihadirkan Teater Satu.
“Musyawarah Burung”, diangkat ke pentas, dari sebuah novel klasik karya Fariduddin Attar. Dan dari pertunjukan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka percakapan mengenai keberagaman, relasi antar manusia, serta pentingnya membangun ruang dialog.

Sutradara sekaligus Penulis naskah, Iswadi Pratama, di acara Media Preiew, berlangsung di Komunitas Salihara, Pasar Minggu – Jakarta Selatan, Jumat, 18 September 2026, menyampaikan,“Saya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mempelajari dan memahami novel bergaya alegoris itu.”
Lanjutnya, “Musyawarah Burung” adalah alegori dari perjalanan manusia untuk menemukan kesejatian diri dan hakikat kebenaran. Selain itu, katanya, kisah perjalanan burung mencari Simurgh, Raja Burung, merupakan refleksi dari kecendrungan sifat-sifat manusia. Dimana sifat-sifat itu akan menentukan cara pandang manusia dalam memahami realitas dan menentukan apa yang menjadi tujuan hidup mereka.
“Saya melihat masalah utama masyarakat di era sekarang adalah kehilangan pusat nilai di dalam dirinya. Dalam hal inilah saya menemukan relevansi antara novel tersebut dengan kenyataan zaman di mana kita hidup sekarang. Hidup manusia seperti kehilangan pusat gravitasi, melayang-layang tak tentu arah terbawa arus zaman yang tak dapat dikendalikan”.

Pertunjukan “Musyawarah Burung”, dimainkan oleh 14 orang aktor yang masing-masing akan memerankan karakter ganda sebagai burung sekaligus sebagai seorang penempuh pertunjukkan. Untuk mencetak pemeran yang mendalami perannya, para pemeran selama enam bulan digembleng secara fisik agar memiliki stamina dan keterampilan yang memadai sehingga bisa meladeni tuntutan artistik yang diberikan Sutradara, jelas Wika, Pimpinan Produksi Pertunjukan “Musyawarah Burung”.
Wika mengatakan dipilihnya Musyawarah Burung sebagai teks pertunjukan dengan alasan utama bahwa saat ini semakin sulit ditemukan pertunjukan teater yang mengangkat isu spiritualisme sekaligus kritik sosial yang tajam. “Salah seorang sutradara dunia yang pernah memainkan teks musyawarah burung adalah Peter Brook, itu terjadi pada kisaran tahun 1975-1979,” ujar Wika lagi.
Tentu saja ada seniman lain di Indonesia yang pernah mengangkat kisah tersebut sebagai pertunjukan tapi itu hanya satu atau dua seniman saja. Sementara muatan yang terdapat dalam teks tersebut semakin lama justru semakin relevan dengan situasi kita saat ini. Demikian Wika menambahkan.
Dalam pertunjukaan kali ini Teater Satu juga berkolaborasi dengan para musisi dari Lampung, videographer dan filmmaker dari Jogjakarta. Dan, “Musyawarah Burung” juga dipentaskan di Teater Black Box Salihara pada tanggal 19-20 September 2026.
“Untuk pertunjukan di Lampung, kami di support oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Sedangkan pertunjukan di Jakarta kami bekerjasama dengan komunitas Salihara,” ujar Wika.
[]Andriza Hamzah
Photo : Dok. Teater Satu/EPR

